Jumat, 09 Mei 2014

Renungan Hari ini, Sabtu 10 Mei 2014

 "Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas."  (Yesaya 7 :11).
Respon orang yang sedang ketakutan bisa beragam. Ada yang langsung pergi mencari bantuan kemana saja, asalkan ia bisa lepas dari ketakutan itu, ada yang tetap berdiam diri, karena takut hal yang lebih buruk lagi terjadi dalam hidupnya. Dan pada umumnya orang yang takut sering melakukan hal-hal yang  tidak masuk akal sekalipun dia tahu yang dia lakukan tidak dapat memberikan apa-apa. Demikianlah dengan Ahas, Raja Yehuda. Apakah yang dipikirkan Ahas ketika ia memutuskan untuk meminta tolong kepada Asyur? Ketika itu Ahas dalam keadaan panik dan takut, sebab Aram dan Israel akan menyerang Yehuda. Karena ketakutannya itulah maka Ahas melakukan tindakan yang "rasional". Sebagai seorang kepala negara, ia harus memikirkan keselamatan bangsanya dan dirinya sendiri. Ia tidak bisa menunggu lagi karena Aram dan Israel akan segera menghancurkan Yerusalam dan Yehuda. Ia harus bertindak cepat, berpikir logis dan minta bantuan kepada Asyur. Harus, harus, harus! Kelihatannya Ahas sudah terjebak dengan situasi. Pada waktu itu, memang tidak gampang -- Ahas diminta Allah untuk beriman. Dalam situasi krisis, bukankah beriman merupakan pilihan paling akhir yang akan diambil oleh seorang yang berpikir logis?

Ahas diminta untuk memohon sebuah tanda. Namun Ahas sudah menutup hatinya. Ia tidak akan mengubah keputusannya untuk meminta tolong kepada Asyur. Karena itu, Tuhan memberikan tanda meskipun Ahas tidak memintanya. Pemberian tanda ini merupakan sebuah demonstrasi yang dilakukan Allah untuk menentang Ahas. Allah ingin menunjukkan bahwa janji-Nya pasti terlaksana namun Ahas tetap buta. Tanda yang diberikan adalah akan lahirnya seorang anak sebagai simbol Imanuel, simbol bahwa "Allah beserta dengan kita [umat-Nya]." Namun, Ahas tetap keras hati. Maka, Allah menunjukkan bahwa Asyur akan memusnahkan Yehuda.  

Orang yang takut dan panik, tak mungkin berpikir jernih. Orang yang berpikir dalam iman yang didasarkan kebenaran firman saja yang mampu membuat pertimbangan yang benar dan jernih. Meski firman telah datang, Ahas tetap saja dalam pertimbangan-pertimbangannya yang tak beriman. Bahkan tawaran agar meminta tanda dari Tuhan pun ditolaknya. Oleh karena tawaran janji Allah ditolak, maka peringatan hukuman Allah pun harus ditanggung. Kadang cara terakhir yang Tuhan pakai untuk menyadarkan kita tentang perlunya bersandar pada Tuhan, yaitu dengan membiarkan kita mengalami dan merasakan hidup tanpa penyertaan-Nya. Saat kita harus berjuang sendirian menghadapi tantangan kehidupan, kita sadar bahwa hanya bersama Tuhan kita bisa menang terhadap pencobaan. Jadi jangan tunggu sampai Tuhan harus bertindak demikian keras baru kita mau bertobat. Amin.
DOA : Terima kasih Tuhan untuk kasihMu yang besar. Di dalam ketakutan kami akan banyak hal di dunia ini, biarlah kami senantiasa percaya kepada-Mu. Amin.

Kata-kata Bijak :
Anda boleh merasa takut. Namun, ingat bahwa mendengarkan dan menaati Allah adalah tindakan paling tepat yang dapat ditempuh.
sumber : Renungan - Gereja Kristen Protestan Indonesia